Museum Karaeng Patingalloang: Warisan Sang Galileo Dari Makassar
Profil Museum
Museum Karaeng Pattingalloang didirikan sebagai sebuah institusi yang didedikasikan untuk menghormati dan melestarikan warisan salah satu tokoh paling berpengaruh di Kerajaan Gowa-Tallo. Pendirian museum ini secara spesifik bertujuan sebagai tempat penyimpanan temuan-temuan artefak yang dihasilkan dari kegiatan ekskavasi penyelamatan di Benteng Somba Opu. Meskipun demikian, fungsi utama Museum ini adalah menyajikan kisah dan kontribusi Karaeng Pattingalloang kepada publik. Bangunan museum itu sendiri merupakan replika dari rumah tradisional Bugis-Makassar, lengkap dengan arsitektur khasnya, termasuk atap berbentuk pelana. Arsitektur ini segera memberikan konteks budaya bagi pengunjung, menempatkan narasi sejarah Karaeng Patingalloang dalam bingkai tradisi aristokrat Makassar. Museum Karaeng Pattingalloang terletak di dalam kompleks bersejarah Benteng Somba Opu, menjadikannya bagian integral dari kawasan warisan Kerajaan Gowa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Sang Tumabicara Butta : Puncak Intelektual dan Strategis Karaeng Pattingalloang
Karaeng Pattingalloang, yang memiliki nama lengkap I Mangadacinna Daeng I Ba'le Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, merupakan figur yang tidak hanya berperan sebagai politisi tetapi juga sebagai pemikir utama kerajaan. Setelah wafat, beliau dianugerahi gelar Tumenanga ri Bontobiraeng. Beliau adalah putra dari Raja Tallo ke-6, Sultan Abdullah atau Karaeng Matoaya, yang secara eksplisit mendidik putranya untuk menjadi pemimpin yang berwawasan luas. Pendidikan ini membentuk Karaeng Pattingalloang menjadi sosok dengan kapasitas, pengetahuan yang luas, penguasaan bahasa, dan jejaring pergaulan yang mendalam dengan bangsa-bangsa Eropa.
Arsitek Kemakmuran Gowa-Tallo
Peran paling menonjolnya adalah sebagai tumabicara butta (Mangkubumi atau Perdana Menteri) Kerajaan Makassar (Gowa-Tallo). Beliau mengemban tugas ini mendampingi tiga raja: Sultan Alauddin, Sultan Muhammad Said, dan sekitar satu tahun mendampingi Sultan Hasanuddin. Masa bakti efektifnya yang paling dikenal dan paling berpengaruh terjadi dari tahun 1639 hingga 1654, khususnya saat mendampingi Sultan Muhammad Said. Kepemimpinannya menandai periode kemajuan pesat bagi Makassar.
Kosmopolitanisme dan Kecakapan Intelektual
Karaeng Pattingalloang dikenal memiliki kecintaan yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan Barat, yang merupakan kunci kemajuan Kerajaan Gowa Tallo di bawah kepemimpinannya.Dedikasinya terhadap pengetahuan, terutama astronomi, membuatnya dikenal sebagai "Galileo of Macassar". Kecerdasan dan wawasan luasnya digambarkan dalam sumber-sumber Eropa dan lontarak sebagai an able and enlightened ruler.3
Kemampuan linguistiknya yang luar biasa menjadikannya diplomat yang tak tertandingi; beliau dilaporkan menguasai lima bahasa Eropa: Inggris, Spanyol, Portugis, Denmark, dan Latin. Penguasaan bahasa asing ini memungkinkan beliau menangani urusan luar negeri yang kompleks, termasuk persaingan antara kekuatan-kekuatan Eropa, dengan bijaksana. Keahlian ini merupakan penentu keberhasilan diplomasi dan perdagangan Gowa. Seorang pemimpin yang mampu berkomunikasi langsung dengan utusan dari lima negara Eropa dan memahami teknologi serta peta dunia secara mendalam jelas memiliki keunggulan strategis dalam negosiasi dan pemahaman geopolitik global, menjadikan investasi intelektual sebagai basis kekuatan negara.
Kecintaan Karaeng Pattingalloang terhadap ilmu pengetahuan tercermin dari barang-barang yang dipesannya. Beliau diketahui memesan teleskop besar yang langka (Galilean Frospective Glass), bola dunia (globe), serta koleksi buku-buku ilmu pengetahuan, agama, peta dunia, sains, dan teknologi, yang semuanya menjadi bagian dari perpustakaan pribadinya. Benda-benda ini melambangkan pendekatan intelektualnya terhadap tata negara, di mana astronomi dan kartografi digunakan sebagai alat untuk memahami dunia dan membangun kekuatan maritim.
Keunggulan Ekonomi Strategis dan Keseimbangan Diplomatik
Di bawah kepemimpinan Karaeng Pattingalloang, Makassar berkembang pesat menjadi tidak hanya pelabuhan internasional, tetapi juga pelabuhan transit utama. Makassar bertindak sebagai pusat penimbunan (pusat penimbunan) untuk berbagai komoditas bernilai tinggi. Pedagang dari Cina, Persia, hingga Malaka tidak perlu berlayar jauh ke Maluku; mereka cukup berlabuh di Makassar untuk mendapatkan semua jenis produk yang dicari. Strategi ini bahkan membuat harga rempah-rempah di Makassar dilaporkan lebih murah dibandingkan di Kepulauan Rempah itu sendiri, sebuah langkah strategis untuk menarik arus perdagangan global.
Koleksi Museum
Koleksi Museum Karaeng Pattingalloang saat ini sebagian besar berasal dari artefak hasil penggalian Benteng Somba Opu, sejalan dengan tujuan awal pendiriannya. Koleksi-koleksi yang dipamerkan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori:
- Numismatika: Koleksi mata uang bersejarah yang mencerminkan status Makassar sebagai pelabuhan global. Ini termasuk uang logam VOC, uang logam Wilhelmina, dan uang kertas Nederlandsch-IndiE. Koleksi ini secara kuat mendukung narasi aktivitas perdagangan internasional yang dikelola Karaeng Pattingalloang.
- Seni Rupa dan Etnografika: Termasuk Lukisan Raja-Raja Gowa , serta benda-benda budaya seperti alat musik tradisional (misalnya, kecapi dan rebana), dan senjata tradisional seperti tombak Trisula
- Artefak Khusus Karaeng Pattingalloang: Koleksi yang secara langsung terkait dengan Karaeng Pattingalloang, seperti pakaian adat (attire), alat musik tradisional, dan barang-barang berharga lainnya. Benda-benda ini memberikan wawasan tentang kehidupan kaum aristokrat pada abad ke-17.
Galeri Foto Museum Karaeng Patingalloang
Meriam Anak Makassar: Meriam ini difungsikan sebagai senjata peperangan, jarak tembak sekitar 1.000 meter.
Tampilan Meriam dari depan.
Tempayan: Temuan ekskavasi Benteng Somba Opu Tahun 1992.
Tembikar: Temuan ekskavasi Benteng Somba Opu Tahun 1992.
Batu Bata Benteng Bermotif: Temuan ekskavasi Benteng Somba Opu Tahun 1992.
Museum Karaeng Patingalloang tampak dari depan
Mata tombak hasil ekskavasi
Replika rempah-rempah yang diperdagangkan di pelabuhan Somba Opu